Sebaiknya Makan Buah Dulu Baru Makan Nasi atau Sebaliknya

Sebaiknya Makan Buah Dulu Baru Makan Nasi atau Sebaliknya

Makan buah--

RADARMUKOMUKO.COM - Di banyak meja makan keluarga Indonesia, buah sering hadir sebagai penutup. Setelah nasi dan lauk disantap hingga kenyang, barulah potongan pepaya, pisang, atau semangka muncul sebagai pelengkap. 

Kebiasaan ini telah berlangsung lama dan nyaris tak pernah dipersoalkan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, diskusi tentang urutan makan kembali mencuat, terutama ketika isu kesehatan pencernaan, gula darah, dan gaya hidup sehat semakin mendapat perhatian.

Di tengah perubahan pola makan masyarakat, muncul pandangan bahwa urutan konsumsi makanan dapat memengaruhi cara tubuh bekerja.

Perbincangan ini bukan sekadar tren media sosial. Sejumlah ahli gizi mulai menyoroti bagaimana tubuh memproses karbohidrat, serat, dan gula alami dari buah dalam satu waktu makan. 

Buah, dengan kandungan serat, vitamin, dan antioksidan, memiliki karakter berbeda dibanding nasi yang menjadi sumber karbohidrat utama. Ketika keduanya masuk ke tubuh dalam urutan tertentu, respons metabolik yang terjadi pun bisa berbeda, terutama terkait lonjakan gula darah dan rasa kenyang.

Menurut dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, ahli gizi klinik, buah sebaiknya dikonsumsi sebelum makanan utama dalam kondisi perut belum terlalu penuh. Ia menjelaskan bahwa serat dalam buah dapat membantu memperlambat penyerapan glukosa dari makanan berikutnya.

 “Jika buah dimakan lebih dulu, seratnya akan membantu mengendalikan kenaikan gula darah setelah makan nasi,” ujarnya dalam sebuah diskusi gizi di Jakarta. Pendekatan ini dinilai bermanfaat terutama bagi individu yang memiliki risiko diabetes atau sedang berupaya menjaga berat badan.

Pandangan serupa disampaikan oleh Prof. Hardinsyah, pakar gizi dari IPB University. Ia menekankan bahwa buah tidak seharusnya selalu diposisikan sebagai makanan penutup. 

Dalam konteks pola makan seimbang, buah bisa menjadi pembuka yang baik karena kandungan air dan seratnya membantu menyiapkan sistem pencernaan. Dengan perut yang belum dipenuhi karbohidrat kompleks dan lemak, tubuh dapat mencerna nutrisi buah secara lebih optimal.

Di sisi lain, kebiasaan makan nasi terlebih dahulu juga memiliki latar belakang budaya dan kebutuhan energi. Nasi merupakan sumber kalori utama yang telah lama menjadi tulang punggung konsumsi masyarakat Indonesia. 

Bagi pekerja fisik atau mereka yang membutuhkan energi cepat, nasi sering diprioritaskan agar tubuh segera mendapatkan bahan bakar. Namun ketika nasi dikonsumsi dalam porsi besar tanpa jeda, lonjakan gula darah dapat terjadi lebih cepat, terutama jika disertai lauk tinggi lemak.

Ketika buah dikonsumsi setelah nasi, situasinya sedikit berbeda. Perut yang sudah penuh memperlambat proses pengosongan lambung, sehingga gula alami dari buah bisa bertahan lebih lama dalam saluran cerna. 

Pada sebagian orang, kondisi ini menimbulkan rasa tidak nyaman seperti kembung. Meski tidak selalu berbahaya, efek ini sering menjadi alasan mengapa sebagian ahli gizi menyarankan buah dimakan terpisah atau di awal waktu makan.

Aspek waktu juga memainkan peran penting. Pada jam makan siang atau malam, ketika tubuh telah melalui aktivitas panjang, konsumsi buah di awal dapat membantu mengendalikan nafsu makan. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: