Mitos atau Fakta Makan Buah Sawo Bisa Terserang Malaria
Buah Sawo--
RADARMUKOMUKO.COM - Di banyak daerah tropis, buah sawo kerap hadir di halaman rumah, pasar tradisional, hingga meja makan keluarga. Dagingnya cokelat lembut dengan rasa manis yang khas, sering dinikmati sebagai buah segar penutup hidangan.
Namun di balik kenikmatannya, beredar kepercayaan turun-temurun yang menyebut bahwa mengonsumsi buah sawo dapat menyebabkan seseorang terserang malaria.
Cerita ini hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya, terutama di wilayah yang pernah menjadi kantong penyakit malaria, sehingga menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
Keyakinan tersebut biasanya muncul dari pengalaman kolektif masyarakat di daerah endemis malaria. Pada masa lalu, ketika layanan kesehatan dan pemahaman medis masih terbatas, warga sering mengaitkan penyakit dengan makanan yang dikonsumsi sebelum gejala muncul.
Malaria yang ditandai demam tinggi, menggigil, dan tubuh lemas sering kali datang tiba-tiba. Ketika seseorang jatuh sakit setelah makan sawo, buah inilah yang kemudian dituding sebagai pemicu. Padahal, menurut penjelasan medis, malaria adalah penyakit infeksi yang penyebabnya sangat spesifik.
Dokter spesialis penyakit tropis, dr. Rendra Mahardika, menegaskan bahwa malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina.
“Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa buah sawo atau makanan apa pun bisa menjadi penyebab langsung malaria,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa parasit tersebut masuk ke aliran darah manusia melalui air liur nyamuk saat menggigit, kemudian berkembang di hati dan sel darah merah. Proses ini sama sekali tidak berkaitan dengan sistem pencernaan atau jenis makanan yang dikonsumsi.
Penjelasan serupa juga disampaikan oleh peneliti kesehatan masyarakat dari Universitas Gadjah Mada, Nurhadi, yang menyoroti aspek sosial di balik munculnya mitos ini.
Menurutnya, buah sawo sering tumbuh di lingkungan lembap dan rindang, kondisi yang juga disukai nyamuk Anopheles untuk berkembang biak.
“Ketika seseorang memetik atau memakan sawo di kebun pada sore atau malam hari, risiko digigit nyamuk memang lebih tinggi. Dari sinilah muncul anggapan bahwa sawo penyebab malaria, padahal yang terjadi adalah paparan nyamuk,” jelasnya.
Secara nutrisi, buah sawo justru memiliki kandungan yang bermanfaat bagi tubuh. Sawo kaya akan serat, vitamin C, serta antioksidan alami yang membantu menjaga daya tahan tubuh.
Dalam jurnal Food Science & Nutrition, disebutkan bahwa konsumsi buah-buahan tropis, termasuk sawo, berkontribusi pada peningkatan sistem imun jika dikonsumsi secara seimbang. Manfaat ini bertolak belakang dengan anggapan bahwa sawo membawa penyakit berbahaya seperti malaria.
Mitos tentang sawo dan malaria juga dipengaruhi oleh waktu munculnya gejala. Malaria memiliki masa inkubasi yang berkisar antara 7 hingga 30 hari setelah gigitan nyamuk. Artinya, gejala tidak langsung muncul saat seseorang terpapar.
Ketika gejala akhirnya terasa, penderita kerap mengingat makanan terakhir yang dikonsumsi sebelum jatuh sakit, termasuk buah sawo, dan mengaitkannya sebagai penyebab. Keterbatasan informasi inilah yang membuat korelasi semu berkembang menjadi keyakinan kuat di masyarakat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: